Arsitek
Gedung Pusat UGM: G.P.H. Hadinegoro
Riwayat singkat G.P.H.
Hadinegoro
Pada hari Ahad Pahing tanggal 2 Jumadilawal tahun 1828
Ehe wuku Gumbreg atau tanggal 5 Januari tahun 1901 Masehi di
Karaton Surakarta Hadiningrat, lahir seorang putra dari
Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe Boewono Kaping X
dari priyantun dalem yang bernama Raden Ayu Tranggonorukmi.
Ayahanda memberinya nama Gusti Raden Mas (G.R.M.)
Rohkialoen.
Setelah usia sekolah G.R.M. Rohkialoen kecil disekolahkan
di Freubel School (setingkat Sekolah Taman
Kanak-kanak) dan indekost pada keluarga Belanda yang tinggal
di daerah Jebres, Surakarta. Hanya pada hari Minggu beliau
di izinkan pulang ke Karaton. Saat itu usia sekolah paling
muda 8 tahun. Rupanya inilah pendidikan yang diarahkan oleh
ayahandanya untuk menempa agar menjadi pribadi yang teguh,
mandiri dan berpandangan modern.
Selepas dari Freubel School, beliau melanjutkan ke
Europese Lagere School (ELS) di Semarang dan
disini indekost pula pada keluarga Belanda.
Tamat dari ELS di Semarang, G.R.M. Rohkialoen
dikirim oleh ayahandanya ke Negeri Belanda untuk melanjutkan
sekolah di Hogere Burgerelijke School (HBS) di
kota Leiden. Dengan mempertimbangkan agar nama dalam ijasah
HBS-nya tidak ada perubahan maka menjelang ujian
beliau memohon ayahandanya untuk memberinya nama pangeran
meskipun belum waktunya. Permohonannya di kabulkan dan
G.R.M. Rohkialoen diangkat menjadi Pangeran dengan nama
Gusti Pangeran Hario Hadinegoro (G.P.H.).
Setelah menyesaikan pendidikannya di HBS, beliau
meneruskan menuntut ilmu di Technische Hooge School
di Delft dan jurusan yang dipilih adalah Bouwkunde.
(Arsitektur) Jurusan ini belum populer pada saat itu, dan
kebanyakan mahasiswa dari Jawa memilih jurusan hukum,
kedokteran, atau ekonomi. Selama di Negeri Belanda beliau
berkesempatan ditugasi ayahandanya untuk mewakili dalam
memenuhi undangan Ratu Wilhelmina di istananya.
Dengan wafatnya Hingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakoe
Boewono Kaping X pada tahun 1939 maka pulanglah G.P.H.
Hadinegoro ke Surakarta. Tidak lama setelah itu, pecah
Perang Dunia ke II dan Jepang masuk ke Indonesia. Pada masa
perang kemerdekaan G.P.H. Hadinegoro ditugasi untuk memimpin
pengiriman bantuan logistik dari Kraton Surakarta ke
Surabaya sewaktu diserbu oleh tentara sekutu.
Setelah proklamasi kemerdekaan beliau sempat membantu
Zeni Angkatan Darat beberapa saat di Surakarta. Kebetulan,
KSAD yang pertama adalah adik beliau yaitu Let. Jend. G.P.H.
Djatikusumo, salah satu putera Sri Susuhunan Pakoe Boewono
Kaping X. Setelah penyerahan kedaulatan pada tahun 1949
beliau bergabung dengan Kementrian Pekerjaan Umum yang pada
waktu itu masih di Jogjakarta. Selama beliau di Jogjakarta
keluarga tetap di Solo dan beliau tinggal di Puri Pakualaman
karena permaisuri Sri Paku Alam VII adalah kakaknya, salah
satu putri Pakoe Boewono Kaping X.
Ada sesuatu hal yang beliau pernah sampaikan yang saya
masih ingat dengan baik, "Saya ini anak raja, jadi saya
harus bekerja serta membaktikan diri pada negara, dan negara
saat ini adalah Republik Indonesia". Hal inilah yang
membulatkan tekadnya untuk bergabung dengan Kementrian
Pekerjaan Umum.
Pada waktu Bung Karno mengambil keputusan bahwa Republik
Indonesia perlu memiliki Universitas dan Sri Sultan Hamengku
Buwono IX berkenan memberikan tanah miliknya di Bulaksumur,
maka G.P.H. Hadinegoro ditunjuk oleh Bung Karno sebagai
arsiteknya.
Istilah universitas pada waktu itu belum ada, dan yang
ada adalah bahasa Belanda yaitu universiteit. Oleh karena
dicarilah istilah dan yang disetujui adalah universitas,
usulan dari Profesor Purbocaroko. Analog dengan hal itu
istilah sejenis secara konsisten mengikuti seperti,
fakultas, kapasitas, publisitas dan sebagainya.
Perencanaan dimulai dari masterplan yang didalam
rencananya memasukan filosofi setempat, misalnya adanya axis
antara utara dengan selatan dimana utara adalah Gunung
Merapi sedangkan selatan adalah Segara Kidul (Laut Selatan
).
Bangunan pertama yang dibangun adalah Gedung Tata Usaha.
Bangunan inipun mengikuti kaidah axis utara selatan serta
menghadap ke selatan. Dilatarbelakangi gunung atau tanah
dengan latar depan laut atau air. Desain arsitekturnya
berbentuk massa yang simetris dengan bentuk atapnya,
memperhatikan desain arsitektur Jawa. Pada elemen tertentu
dimasukkan unsur "modern" misalnya railing tangga dan
balustrade dari besi, lurus-lurus dengan finishing cat warna
merah. Kelihatannya beliau menginginkan harmoni dicapai
dengan "kontras" agar tidak monoton dan mengarah ke
"dull". Jadi bak gadis kuning langsat memakai
lipstick. Kalau beliau saat ini masih ada, pasti akan sangat
bahagia karena karya masterpiece-nya masih berdiri tegak,
terpelihara, dan hampir tidak ada perubahan yang berarti,
termasuk lipstick-nya. Dalam tim perencanaan sempat dibantu
oleh Hr. Meyer yang menyajikan gambar-gambar perspektif dan
Hr. Corbet dalam pembuatan maket sebelum mereka pulang ke
Netherland.
Bung Karno sendiri melakukan inspeksi pada tahap-tahap
perencanaan. Pada tanggal 19 Desember 1951 Bung Karno
berkenan pula meletakkan batu pertama pembangunan kampus
Universitas Gajah Mada dengan sendok semen yang berlapis
perak. Suatu event yang semua pihak mengakui dimulainya
pembangunan pendidikan tinggi di Republik Indonesia. Dalam
pidatonya beliau memperkenalkan arsiteknya, G.P.H.
Hadinegoro.
Berkenaan dengan dipindahkannya Kementrian Pekerjaan Umum
ke Bandung pada tahun1952, beliau dan seluruh keluarga
pindah ke Bandung. Sementara itu penyelesaian pembangunan
Kampus Universitas Gajah Mada tetap menjadi tanggung
jawabnya.
Jabatannya adalah Kepala Jawatan Gedung Gedung Pusat
Bagian Perancang. yang terus dipangkunya sampai pensiun pada
tahun1960.
Karya masterpice beliau yang lain adalah Gedung Merdeka
di Bandung yang dipersiapkan untuk Konferensi Asia Afrika
pada tahun 1955.
Karya karya beliau yang lain diantaranya Gedung Keuangan
di Bandung, Perumahan Dosen IKIP di Bandung, Master plan
Universitas Pajajaran di Bandung, Pengembangan Rumah Sakit
Hasan Sadikin di Bandung, Masterplan Sekolah Kepolisian di
Sukabumi, dan Monumen Pahlawan PU Sapta Taruna di Bandung.
Penghargaan yang di terimanya antara lain dari Perdana
Menteri Ali Sastro Amidjojo untuk Pembangunan Gedung
Merdeka.
Keanggotaan Asosiasi Profesi beliau adalah Asia
Architecture Association yang pada saat itu berpusat di
Manila.
Pada tahun 1962 satu tahun setelah pensiun beliau jatuh
sakit. Walaupun dalam keadaan sakit dengan didampingi
isterinya beliau tetap membina keluarganya sampai
mengantarkan 5 putra putrinya menyesaikan studi di perguruan
tinggi.
Akhirnya pada hari Jum'at 4 Januari 1984, satu hari
sebelum ulang tahun beliau dipanggil menghadap Tuhan Yang
Maha Esa, dan dimakamkan di pemakaman ayahanda dan
leluhurnya di Astana Imogiri. Beliau meninggalkan seorang
isteri, Raden Ayu Soerachmien yang dinikahinya pada tahu
1941, dua putera dan tiga puteri.
Pribadi yang selalu dikenang keluarga dan teman-teman
dekatnya, beliau adalah seorang yang correct, rapih,
sistematis, segala sesuatu direncanakan dengan matang,
disiplin, hemat, tetapi juga selalu tampil serasi, lembut
dan berselera humor tinggi.
Ditulis oleh:
Harun Hadinegoro

|
Arsitek Gedung Pusat UGM, Hadinegoro berbincang
dengan Presiden Soekarno saat peresmian dari
koleksi arsip UGM.
|


|
Arsitek Gedung Pusat UGM, Hadinegoro berbincang
dengan Presiden Soekarno saat peresmian dari
koleksi arsip UGM. Foto asli dari arsip UGM dan
reproduksi foto menggunakan Google Gemini.
|

|
Arsitek Gedung Pusat UGM, Hadinegoro berbincang
dengan Presiden Soekarno saat peresmian dari
koleksi arsip UGM.
|


|
Arsitek Gedung Pusat UGM, Hadinegoro berbincang
dengan Presiden Soekarno saat peresmian dari
koleksi arsip UGM. Foto asli dari arsip UGM dan
reproduksi foto menggunakan Google Gemini.
|
Masterplan Koleksi Arsip UGM dan
Reproduksi Menggunakan AI

|
Master Plan Universiteit Gadjah Mada Jogjakarta
dari koleksi arsip UGM
|


|
Master Plan Universiteit Gadjah Mada Jogjakarta
dari koleksi arsip UGM, bangkitan dengan
menggunakan Google Gemini AI pada tahun 2026.
|
|